Suara Jatim: Mengatasi Lonjakan Kasus Denggi dan Kesiapan Fasilitas Kesehatan Daerah

Provinsi Jawa Timur (Jatim) sering kali menghadapi siklus tahunan lonjakan kasus denggi (Demam Berdarah Dengue/DBD), terutama saat musim penghujan tiba atau terjadi perubahan cuaca ekstrem. Denggi, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius. Pertanyaan kritis yang selalu muncul adalah bagaimana Jatim secara efektif mengatasi lonjakan kasus tersebut dan sejauh mana kesiapan fasilitas kesehatan daerah dalam menampung dan merawat pasien secara optimal.

Mengatasi lonjakan kasus denggi tidak bisa hanya dilakukan secara reaktif (pengasapan/ fogging) saat wabah terjadi, tetapi memerlukan strategi proaktif berbasis pencegahan. Kunci utama adalah Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang masif dan berkelanjutan, melibatkan seluruh elemen masyarakat di Jatim melalui konsep 3M Plus (Menutup, Menguras, Mendaur Ulang, dan Menghindari gigitan nyamuk). Pemerintah daerah harus mengaktifkan kembali peran Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di tingkat Rukun Tetangga (RT) secara disiplin dan memberikan insentif yang layak.

Aspek kedua yang sangat penting adalah kesiapan fasilitas kesehatan daerah. Ketika terjadi lonjakan kasus denggi, rumah sakit dan Puskesmas, terutama di kawasan padat penduduk Jatim seperti Surabaya, Malang, dan Sidoarjo, sering kali kewalahan. Kesiapan ini mencakup ketersediaan tempat tidur, stok cairan infus dan obat-obatan esensial, serta yang paling krusial, ketersediaan tenaga medis yang terampil dalam menangani kasus DBD, termasuk mengenali tanda-tanda DBD parah (Dengue Shock Syndrome). Peningkatan kapasitas screening dan diagnosis cepat di Puskesmas juga harus menjadi prioritas.

Pemerintah Jatim perlu melakukan pemetaan risiko secara berkala untuk memprediksi daerah mana yang rentan mengalami lonjakan kasus denggi. Data historis dan kondisi iklim harus digunakan untuk membuat sistem peringatan dini. Dengan demikian, sumber daya seperti tim medis dan alat fogging dapat dialokasikan sebelum kasus memuncak. Pelatihan rutin bagi petugas kesehatan daerah tentang protokol penanganan DBD terbaru sangat diperlukan untuk mengurangi angka fatalitas.

Dalam jangka panjang, Jatim harus mempertimbangkan inovasi pencegahan, seperti penggunaan teknologi Wolbachia pada nyamuk , yang terbukti efektif di beberapa kota lain dalam menekan penyebaran virus denggi. Meskipun memerlukan investasi besar dan studi yang cermat, solusi inovasi ini menjanjikan penurunan substansial dalam lonjakan kasus denggi.

Pada akhirnya, mengatasi lonjakan kasus denggi di Jatim adalah ujian bagi kolaborasi antara pemerintah, sektor kesehatan daerah, dan masyarakat. Kesiapan fasilitas kesehatan harus dipersiapkan jauh sebelum musim puncak, dan program pencegahan harus menjadi budaya yang tertanam kuat di tengah komunitas, memastikan bahwa nyawa warga terlindungi dari ancaman endemik ini.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa