Keterbatasan lahan di area perkotaan sering kali menjadi hambatan bagi masyarakat yang memiliki hobi bercocok tanam atau ingin meningkatkan ketahanan pangan mandiri. Di wilayah Jawa Tengah, khususnya di kota-kota padat seperti Semarang dan Solo, konsep pertanian perkotaan mulai menjadi tren yang solusif. Menanggapi antusiasme tersebut, Suara Jateng menghadirkan panduan edukatif berupa simulasi teknik menanam hidroponik yang dirancang khusus untuk warga yang hanya memiliki sisa lahan sempit di teras, balkon, atau bahkan pagar rumah. Metode ini membuktikan bahwa kualitas pangan sehat bisa dihasilkan dari rumah sendiri tanpa perlu tanah yang luas.
Langkah awal dalam simulasi ini dimulai dengan pengenalan sistem hidroponik yang paling sederhana dan ekonomis untuk skala rumah tangga, yaitu sistem Wick atau sistem sumbu. Dalam proses menanam ini, peserta diajarkan untuk memanfaatkan barang bekas seperti botol plastik atau jerigen sebagai wadah nutrisi. Prinsip dasarnya adalah mengalirkan nutrisi ke akar tanaman melalui sumbu kain flanel. Keunggulan sistem ini adalah tidak memerlukan listrik, sehingga biaya operasionalnya sangat rendah. Bagi warga Jateng yang baru memulai, simulasi ini memberikan pemahaman bahwa teknologi pertanian tidak selalu harus mahal dan rumit untuk bisa membuahkan hasil yang maksimal.
Fase kedua dari simulasi ini berfokus pada manajemen nutrisi dan kualitas air. Dalam hidroponik, air adalah media utama pengganti tanah, sehingga keseimbangan pH dan kepekatan nutrisi (PPM) menjadi variabel yang sangat menentukan keberhasilan. Melalui panduan Suara Jateng, warga diajarkan cara meracik nutrisi AB Mix secara mandiri dan memantau kondisi air secara berkala. Teknik menanam ini menuntut ketelitian dalam pengamatan; jika daun mulai menguning, peserta harus tahu bagian mana dari nutrisi yang kurang. Edukasi ini mengubah paradigma masyarakat dari sekadar menanam menjadi mengelola ekosistem mini yang membutuhkan pemahaman sains dasar namun praktis.
Pemilihan jenis tanaman juga menjadi materi penting dalam simulasi ini. Tidak semua tanaman cocok untuk pemula yang memiliki lahan sangat terbatas. Suara Jateng menyarankan jenis sayuran daun seperti selada, pakcoy, kangkung, dan bayam yang memiliki masa panen relatif singkat, yaitu antara 20 hingga 45 hari. Dengan siklus yang cepat, warga bisa merasakan hasil dari kegiatan menanam ini secara rutin untuk kebutuhan dapur sehari-hari. Hal ini tidak hanya menghemat anggaran belanja rumah tangga, tetapi juga menjamin bahwa sayuran yang dikonsumsi bebas dari pestisida kimia berbahaya, karena seluruh proses produksinya berada di bawah kendali sendiri.
