Wacana penerapan Sekolah Full Day di Jawa Timur (Jatim) telah memicu perdebatan sengit dan melahirkan Polemik Sekolah Full Day Jatim. Melalui platform Suara Jatim, perbedaan pandangan antara Wali Murid yang mengkhawatirkan beban anak dan Guru Besar yang mendukung konsep ini sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan tersaji jelas. Perbedaan opini ini menuntut pemerintah daerah untuk melakukan kajian yang mendalam dan komprehensif sebelum mengambil keputusan final.
Pandangan Pro: Peningkatan Mutu dan Pengawasan
Pihak Guru Besar dan para ahli pendidikan yang mendukung konsep Sekolah Full Day berargumen bahwa penambahan jam belajar adalah kunci untuk memaksimalkan potensi akademik dan non-akademik siswa. Mereka berpendapat bahwa waktu yang lebih panjang di sekolah memungkinkan integrasi materi pelajaran formal dengan kegiatan ekstrakurikuler, pengembangan karakter, dan penanaman nilai-nilai moral. Konsep ini bertujuan untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Lebih lanjut, pendukung Sekolah Full Day melihatnya sebagai solusi bagi orang tua yang bekerja, karena anak-anak mendapatkan pengawasan yang terjamin hingga sore hari. Mereka juga mengklaim bahwa dengan Sekolah Full Day, potensi siswa untuk terlibat dalam kegiatan negatif atau terpapar lingkungan yang tidak kondusif di luar sekolah dapat diminimalisir. Menurut mereka, Polemik Sekolah Full Day Jatim perlu dilihat dari perspektif kualitas pendidikan jangka panjang.
Pandangan Kontra: Beban Anak dan Keterbatasan Sarana
Sebaliknya, mayoritas Wali Murid yang menyuarakan penolakan melalui Suara Jatim memiliki kekhawatiran yang sangat mendasar: beban fisik dan mental anak. Mereka khawatir penambahan jam belajar akan menghilangkan waktu anak untuk berinteraksi dengan keluarga, beristirahat, atau mengikuti kegiatan non-formal lainnya, seperti les keagamaan atau kegiatan komunitas. Durasi belajar yang terlalu lama dikhawatirkan justru akan menurunkan efektivitas belajar dan menyebabkan kelelahan kronis pada anak.
Isu infrastruktur juga menjadi sorotan tajam dalam Polemik Sekolah Full Day Jatim. Pertanyaan muncul mengenai kesiapan sekolah-sekolah, terutama di daerah, dalam menyediakan fasilitas pendukung untuk kegiatan full day, seperti ruang kelas yang nyaman, kantin yang higienis, dan sarana olahraga yang memadai. Tanpa sarana yang ideal, konsep Sekolah Full Day dikhawatirkan hanya akan menjadi penjara yang membosankan bagi siswa. Para Wali Murid mendesak pemerintah untuk fokus pada peningkatan kualitas guru dan kurikulum, bukan semata-mata menambah durasi waktu.
Mencari Titik Tengah dalam Polemik Sekolah Full Day Jatim
Untuk menyelesaikan Polemik Sekolah Full Day Jatim ini, Pemerintah Provinsi Jatim harus mencari titik tengah yang mengutamakan kepentingan terbaik anak. Keputusan tidak boleh didasarkan hanya pada keinginan birokrasi, tetapi harus melibatkan survei mendalam terhadap kesiapan sekolah, pendapat psikolog anak, dan masukan dari Wali Murid serta Guru Besar.
